Sapu Hamada – Kerajinan Purbalingga yang di ekspor hingga ke Jepang

Sapu Hamada Kerajinan Tangan Purbalingga yang tembus Pasar Jepang

Sapu Hamada – Sapu adalah salah satu alat pembersih yang terdiri dari bagian serat atau serabut kaku dan biasanya terpasang atau terikat kepada suatu pegangan. Bentuk sapu hampir selalu mengalami perubahan mulai dari bahan ranting-ranting pohon hingga seikatan serat-serat alami. Di purbalingga ada sapu yang terbuat dari tanaman gandum yang disebut dengan sapu hamada. Hebatnya kerajinan sapu hamada khas Desa Kajongan, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah ini telah dijual dan diekspor hingga ke Jepang. Di Negeri Sakura tersebut, sapu hamada laris-manis dibeli warga Jepang.

Sapu Hamada – Kerajinan Purbalingga yang di ekspor hingga ke Jepang

Warga Purbalingga telah menghasilkan berbagai kerajinan sapu seperti sapu hamada, sapu ijuk, serta sapu glalah. Sapu Hamada terbuat dari batang tanaman gandum. Sapu ijuk yang terbuat dari ijuk pohon aren. Sapu glalah terbuat dari tanaman rumput. Dari ketiga jenis sapu tersebut, saat ini baru sapu hamada saja yang diekspor ke Jepang, sedangkan sapu jenis lainnya di jual di sekitar Purbalingga dan daerah sekitarnya. Setiap bulan Purbalingga mengekspor 1.000-2.000 sapu, bahkan bisa lebih sesuai pesanan.

Merurut Kepala Seksi Kesejahteraan Pemerintah Desa Kajongan Makmun di Purbalingga, kerajinan sapu hamada merupakan produk khas Desa Kajongan yang muncul sejak tahun 1969 bersama dengan kerajinan sapu jenis lainnya. Jumlah pengrajin sapu di desa ini, mencapai 37 pengrajin dengan jumlah pekerja untuk setiap pengrajin bervariasi. Satu pengrajin bisa mempekerjakan antara 5 orang hingga puluhan orang, sesuai kapasitas produksinya. Untuk kebutuhan bahan bakunya, ada yang diperoleh dari lokal di daerah Purbalingga sendiri, seperti rumput glagah yang tumbuh liar di kawasan hutan. Batang tanaman gandum serta ijuk diperoleh dari luar daerah, seperti Purwodadi, Tegal, Demak, dan Semarang.

Ia mengaku ekspor sapu hamada memang tidak dilakukan secara langsung oleh pengrajin. Sapu Hamada dikirim ke pihak lain yang berada di Yogyakarta dan Bandung yang memiliki akses penjualan sapu ke Jepang. Meskipun begitu kerja sama tersebut telah mendorong roda perekonomian masyarakat desa setempat semakin berkembang. Saat ini Desa Kajongan telah menjadi sentra kerajinan sapu di Kabupaten Purbalingga.

Upaya pemerintah untuk mendorong pengrajin sapu

Dalam rangka mendorong pengembangan usaha kerajinan sapu tersebut, Pemerintah Desa Kajongan akhirnya membangun kios di tepi Jalan Raya Bojongsari. Ahmad Zaenuri yang merupakan salah seorang pengrajin  mengungkapkan sapu hamada mulai diproduksi sejak tahun 1962. Ini bertepatan dengan banyaknya warga desa yang menanam tanaman gandum. Hanya saja sejak beberapa tahun terakhir tanaman gandum tersebut tidak lagi ditanam sehingga. Para pengrajin harus mencarinya  dari luar daerah seperti Kabupaten Demak yang memiliki banyak tanaman gandum yang ditanam oleh petani setempat.

Karena tingginya permintaan sapu hamada untuk diekspor, Ahmad Zaenuri tidak hanya memperkerjakan 20 orang warga desa setempat. Ada juga warga yang ikut membantu membuat sapu hamada dengan cara dikerjakan di rumahnya masing-masing. Setiap orang bisa menghasilkan antara 13-14 sapu berbagai ukuran dengan kualitas sesuai standar kebutuhan ekspor. Jika ditotal ada sekitar 50 lebih orang yang ikut membantu membuat sapu hamada untuk memenuhi permintaan dari perusahaan di Bandung yang akan mengeskpornya ke Jepang. Harga dari satu sapu bervariasi mulai dari 50rb sampai 200rb rupiah sesuai ukuran serta kebutuhan bahan bakunya.

Sapu Hamada - Kerajinan Tangan Purbalingga yang tembus Pasar Jepang
Kerajinan Tangan Purbalingga yang tembus Pasar Jepang

Selain Ahmad Zaenuri ada juga pengrajin sapu hamada lainnya yang bernama Sunarta. Dalam sepekan, sunarta dengan dibantu 5 karyawan bisa menghasilkan 800 sapu yang juga akan dikirim ke jepang melalui sebuah perusahaan di Bandung. Harga yang dipatok sunarta sekitar 50rb sampai 100rb untuk setiap sapunya.

Selain bisa meningkatkan perekonomian warga sekitarnya, Desa Kajongan menjadi salah satu penyumbang ekspor kerajinan tangan di indonesia. Hal ini juga bisa meningkatkan perekonomian nasional melalui industri kreatif. Selain itu juga bisa membuktikan bahwa Indonesia juga memiliki karya yang banyak diminati warga luar negeri. Banyak juga karya-karya lain dari Indonesia yang tidak kalah dengan negara lain.


Iklan Lewat

Baca Juga : Kerajinan Daur Ulang : Sapu dari Botol Plastik Bekas

 

Untuk mengetahui contoh kerajinan tangan lainnya klik link : Mariberkarya.

 

Kami Percaya bahwa Orang Indonesia Memiliki Kreativitas untuk Membuat Karya yang Berkualitas.

Tetap Belajar, Terus Berkarya dan Selalu Bersinergi.

Mariberkarya, Ini Karya Kita

Iklan Lewat

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas